Manajemen Proyek Indonesia
Manajemen Pelayanan Proyek

Beberapa proyek pengembangan sistem manajemen pelayanan proyek, antara lain adalah sbb:

A. Proyek Pengembangan sistem manajemen kinerja dan Key Performance Inditors untuk para pegawai pada salah satu perusahaan agro industri terbesar di Indonesia.

B. Proyek Penyusunan Performance Appraisal System (sistem manajemene kinerja) pada salah satu perusahaan manufaktur di Indonesia.

C. Proyek Workshop Penyusunan Key Performance Indicators.

D. Proyek Monitoring penerapan sistem manajemen kinerja pada perusahaan energi terbesar di Indonesia.

Ciri-ciri proyek

  • Bertujuan menghasilkan lingkup (scope) tertentu berupa produk akhir ayau hasil kerja akhir.
  • Dalam proses mewujudkan lingkup diatas, ditentukan jumlah biaya, jadwal, serta kriteria mutu.
  • Bersifat sementara dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas.
  • non rutin, tidak berulang-ulang. Macam dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung

Sasaran proyek dan tiga kendala (Triple Constraint)
Batasan yang harus dipenuhi yakni :

  • Besar Biaya (anggaran) yang dialokasikan.
  • Jadwal.
  • Mutu yang harus dipenuhi.

Perbedaan Kegiatan Proyek Dan Operasional :

Proyek :

  • Bercorak dinamis, nonrutin
  • Siklus proyek relatif pendek
  • Intensitas kegiatan dalam periode siklus proyek berubah-ubah (naik-turun)
  • Kegiatan harus diselesaikan berdasarkan anggaran dan jadwal yang telah ditentukan
  • Terdiri dari macam-macam kegiatan yang memerlukan berbagai disiplin ilmu
  • Keperluan sumber daya berubah, baik macam maupun volumenya

Operasional :

  • Berulang-ulang, rutin
  • Berlangsung dalam jangka panjang
  • Intensitas kegiatan relatif sama
  • Batasan anggaran dan jadwal tidak setajam proyek
  • Macam kegiatan tidak terlalu banyak
  • Macam dan volume keperluan sumber daya relatif konstant.

Manajemen Proyek

Proses Proyek aktivitas manajemen yang dilakukan dalam periode tertentu dan tidak bersifat rutin untuk mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan proyek yang telah ditetapkan sebelumnya

Hal-hal yang menyebabkan timbulnya suatu proyek :

  • Rencana Pemerintah
  • Permintaan Pasar
  • Dari dalam Perusahan yang bersangkutan
  • Dari kegiatan Penelitian dan Pengembangan

Tiga hal yang berpengaruh besar berkaitan erat dengan konsep manajemen proyek:

  • Manajemen Klasik atu manajemen fungsional (General Management)
  • Pemikiran Sistem
  • Pendekatan Contigency

Manajemen Klasik atau Manajemen Fungsional

Manajemen Klasik menjelaskan tugas-tugas manajemen berdasarkan fungsinya, yaitu merencanakan, mengorganisir, memimpin, dan mengendalikan./span>

Pemikiran Sistem

Pemikiran yang memandang segala sesuatu dari wawasan totalitas.

Pendekatan Contigency

Pendekatan yang erat hubungannya dengan situasi dan kondisi yang berarti bahwa tidak ada satupun pendekatan manajemen terbaik yang dapat dipakai untuk mengelola setiap macam kegiatan.

Macam-macam Proyek dari Segi Pekerjaan

  • Proyek Engineering – Konstruksi
  • Proyek Engineering – Manufaktur
  • Proyek Penelitian dan Pengembangan
  • Proyek Pelayanan Manajemen
  • Proyek Kapital
  • Proyek Radio – Telekomunikasi
  • Proyek Konservasi Bio – Diversity

Tipe Organisasi Proyek:

  • Fungsional
  • Produk dan Area
  • Matriks

Ciri organisasi proyek:

  • Arus horizontal disamping vertikal
  • Penanggung jawab tunggal atas berlangsungnya proyek
  • Pendekatan sistem dalam perencanaan dan implementasi

sumber : konsultan manajemen proyek

Business Career Goals in 2011

Tahun 2011 baru saja berjalan. Karena itu mungkin ada baiknya jika kita mencoba menelisik goals yang hendak kita rajut di tahun ini. Membentangkan sasaran tahunan (annual goals) yang jelas dan spesifik mungkin merupakan sebuah rute yang kudu dilakoni saat kita mau menjemput destinasi yang kita angankan.

Sebab dengan itulah kita bisa meracik sejumput action plan dan merajut sederet key initiatives supaya goals itu bisa menjelma menjadi kenyataan, dan bukan terus tergantung dalam ilusi. Sebab dengan itulah kita lantas bisa mengukur, apakah kita telah move on the right track atau tergelincir ke tepi jalanan.

So, what are your career and business goals in the year of 2011?

Kalaulah kita hendak berbincang, tentang career and business goals, maka mungkin kita bisa memilahnya menjadi dua bagian besar : sasaran tahunan yang telah dipatok oleh kantor dimana Anda bekerja; dan tentu saja your own personal/professional goals.

Bicara mengenai organizational goals, kita membayangkan departemen/bagian dimana Anda berkiprah telah mantap dengan goals yang hendak diraih pada tahun 2011, lengkap dengan sejumlah program kerja yang jelas dan terukur.

Dalam konteks sasaran company-wide, mestinya perusahaan Anda telah men-declare target pertumbuhan bisnis yang hendak diraih. Salah satu target kunci tentu saja : berapa sales revenue mesti tumbuh di tahun ini. Jika sebuah perusahaan sudah matang, target angka pertumbuhan itu harus sudah dikomunikasikan secara intensif ke segenap pegawainya. Disitu pula terbentang, strategi kunci yang mau diracik oleh perusahaan untuk merengkuh target yang telah dibidik.

Sayangnya, di banyak perusahaan/organisasi publik, target dan inisiatif strategis semacam itu tak terkomunikasikan dengan jelas. Banyak karyawan yang sungguh tak tahu berapa target pertumbuhan bisnis perusahaan yang hendak dikejar. Apalagi inisitif strategis untuk mengejarnya. (Jangan-jangan Anda juga seperti itu, tak pernah tahu berapa target pertumbuhan bisnis di tempat Anda bekerja. Doh).

Padahal angka target dan strategic actions itu harus diketahui dengan baik oleh segenap karyawan. Sebab dengan itulah, lantas masing-masing departemen/bagian (termasuk bagian dimana Anda bekerja) bisa ikut merumuskan program untuk membantu pencapaian sasaran utama perusahaan. Bagaimana departemen HRD misalnya bisa merancang program yang tepat, jika tidak tahu target pertumbuhan bisnis yang dituju perusahaan?

Oke, anggaplah goal perusahaan sudah dipahami dengan baik. Dan sekarang, tiba giliran masing-masing departemen/bagian (termasuk bagian Anda) untuk merumuskan goal-nya dengan jelas. Tentu termasuk didalamnya serangkaian inisiatif/program kunci yang hendak diusung di tahun ini.

Mudah-mudahan departemen/bagian dimana Anda bekerja telah merumuskan semuanya dengan detil, sistematis dan terperinci. Artinya, kini saatnya untuk segera mulai melakukan eksekusi terhadap semua rancangan program kerja yang telah disusun (jika departemen Anda belum clear dengan annual goals and programs ini, ya segeralah menyusunnya dengan sigap dan cermat).

Yang tak kalah penting, apapun rancangan inisiatif dan key actions yang telah disusun oleh departemen/bagian Anda, maka bentangkan komitmen Anda untuk ikut merealisasikannya dengan sempurna. Hadirkan tekad sepenuh hati untuk menghadirkan kontribusi yang layak dikenang. Sebab dengan inilah, perjalanan karir Anda di tahun ini juga akan ikut tumbuh dengan mantap.

Selain organizational goals, tentu saja Anda mesti merumuskan your own professional goals di tahun ini. Jadi apa sasaran personal Anda di tahun ini? Tentu saja kita tidak harus menuliskannya dengan terlalu rinci dan njelimet. Namun setidaknya ada “tema strategis” yang harus Anda kejar di tahun ini.

Barangkali di tahun ini Anda ingin menjalani kuliah lagi (pasca sarjana mungkin). Atau mungkin Anda mau merintis usaha sendiri yang sudah lama diangan-angankan. Atau mungkin mau lebih giat membaca buku-buku manajemen bisnis yang bermutu. Atau boleh jadi, mau ikut kursus yang bisa meningkatkan kompetensi : entah kursus advance management, kursus membuat website/blog atau kursus memasak (siapa tahu kelak Anda bisa buka usaha resto sendiri).

Apapun sasaran personal Anda, silakan luangkan waktu sejenak untuk merenungkan apa yang ingin Anda raih di tahun ini. Reflect and think these goals seriously.

manajemen konstruksi manajemen proyek

MANAJEMEN DASAR DAN TEKNIK PENGAWASAN PROYEK

Dasar Teknik Pengawasan ( Controling )
A. Pengantar
Banyak kasus disuatu organisasi tidak dapat terlesesaikan seluruhnya karena tidak ditepatinya waktu penyelesaian ( Dedline ) anggaran yang berlebihan, dan kegiatan lain yang menyimpang dari rencana semula.

B. Devinisi Pengawasan
Menurut Robert J. Mockler pengawasan yaitu usaha sistematik menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan dan mengukur deviasi-deviasai dan mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa semua sumber daya yang dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien.

C. Bentuk-bentuk Pengawasan
1. Pengawasan Pendahulu (feeforward control, steering controls)
Dirancang untuk mengantisipasi penyimpangan standar dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum kegiatan terselesaikan. Pengawasan ini akan efektif bila manajer dapat menemukan informasi yang akurat dan tepat waktu tentang perubahan yang terjadi atau perkembangan tujuan.
2. Pengawasan Concurrent (concurrent control)
Yaitu pengawasan “Ya-Tidak”, dimana suatu aspek dari prosedur harus memenuhi syarat yang ditentukan sebelum kegiatan dilakukan guna menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
3. Pengawasan Umpan Balik (feedback control, past-action controls)
Yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah dilaksanakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai dengan standar.

D. Tahap Proses Pengawasan
1. Tahap Penetapan Standar
Tujuannya adalah sebagai sasaran, kuota, dan target pelaksanaan kegiatan yang digunakan sebagai patokan dalam pengambilan keputusan. Bentuk standar yang umum yaitu :
a. standar phisik
b. standar moneter
c. standar waktu

2. Tahap Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Digunakan sebagai dasar atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara tepat
3. Tahap Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Beberapa proses yang berulang-ulang dan kontinue, yang berupa atas, pengamatan, laporan, metode, pengujian, dan sampel.
4. Tahap Pembandingan Pelaksanaan dengan Standar dan Analisa Penyimpangan
Digunakan untuk mengetahui penyebab terjadinya penyimpangan dan menganalisanya mengapa bisa terjadi demikian, juga digunakan sebagai alat pengambilan keputusan bagai manajer.
5. Tahap Pengambilan Tindakan Koreksi
Bila diketahui dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan, dimana perlu ada perbaikan dalam pelaksanaan.

E. Perancangan Proses Pengawasan
William H. Newman menetapkan prosedur sistem pengawasan, dimana dikemukakan lima jenis pendekatan, yaitu :

1. Merumuskan hasil diinginkan, yang dihubungkan dengan individu yang melaksanakan.
2. Menetapkan petunjuk, dengan tujuan untuk mengatasi dan memperbaiki penyimpangan sebelum kegiatan diselesaikan, yaitu dengan :
a. pengukuran input
b. hasil pada tahap awal
c. gejala yang dihadapi
d. kondisi perubahan yang diasumsikan
3. Menetapkan standar petunjuk dan hasil, dihubungkan dengan kondisi yang dihadapi.
4. Menetapkan jaringan informasi dan umpan balik, dimana komunikasi pengawasan didasarkan pada prinsip manajemen by exception yaitu atasan diberi informasi bila terjadi penyimpangan dari standar.
5. Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi, bila perlu suatu tindakan diganti.

F. Management By Exception (MBE)
MBE atau prinsip pengecualian, dengan titik perhatian pada pengawasan yang paling kritis dan mempersilahkan karyawan atau manajemen tingkat rendah untuk membuat variasinya. Ini digunakan untuk operasi-operasi yang bersifat otomatis dan rutin.

G. Manajemen Informasi System (MIS)
Ini memainkan peranan penting dalam pengawasan dan perencanaan yang efektif. Pengertian MIS yaitu suatu metoda informal pengadaan dan penyediaan bagi manajemen, informasi yang diperlukan dengan akurat dan tepat waktu untuk membuat proses pembuatan keputusan dan memungkinkan fungsi-fungsi perencanaan, pengawasan dan operasional organisasi yang dilaksanakan secara efektif.

Tahap perancangan dari MIS yaitu :
1. survai pendahuluan dan perumusan masalah
2. desain konsepsual
3. desain terperinci
4. implementasi akhir

Agar MIS berjalan efektif maka harus memenuhi lima kriteria, yaitu :
1. Mengikut sertakan pemakai dalam tim perancangan
2. Mempertimbangkan secara hati-hati biaya sistem
3. Memperlakukan informasi yang relevan dan terseleksi
4. Adanya pengujian pendahuluan
5. Menyediakan latihan dan dokumentasi tertulis bagi para operator da pemakai sistem.
Kriteria utama MIS efektif yaitu :
1. pengawasan terhadap kegiatan yang benar
2. tepat waktu dalam pemakaiannya
3. menekan biaya secara efektif
4. sistem yang digunakan harus tepat dan akurat
5. dapat diterima oleh yang bersangkutan

manajemen proyek manajemen konstruksi

Tips Menggunakan Waktu bagi Manajer

Dalam dunia yang penuh kesibukan, musuh seorang manajer adalah pemborosan waktunya sendiri. Sering seorang manajer kehilangan kendali pada waktunya. Waktu dan hari terasa berlalu demikian cepat. Banyak pekerjaan yang tidak kunjung selesai. Inilah beberapa poin penting bagi seorang manajer untuk mengefektifkan penggunaan waktunya:

* Buat daftar pekerjaan hari ini, Hasilnya apa, bukan kegiatannya. Misalnya "Menyelesaikan draf kontrak dengan PT.A." bukan "Membuat draft kontrak " yang belum tahu selesainya dan hasilnya kapan. Kalau bisa daftar pekerjaan besok disusun hari ni sebelum pulang.
* Sentuh suatu pekerjaan sekali saja seminimal mungkin. Menulis sesuatu usahakan selesai. Terima email baca sekali langsung disimpan, direspon, dimasukkan daftar penting, atau dihapus. Yang tidak perlu dihapus.
* Sisihkan waktu cukup beberapa jam untuk pekerjaan-pekerjaan serius. Ada pekerjaan yang lebih baik demikian daripada sambil kerja lain dan tidak kunjung selesai.
* Rapat - Susun agenda, pilih yang datang selektif supaya diskusi tidak kemana-mana, pilih tempat dan waktu yang baik, misalnya rapat jam 11 sebelum makan ataui sebelum jam pulang biasanya lebih cepat selesai daripada yang dijadwalkan jam 8 pagi. Hasilnya juga sering sama.
* Bagi yang beruntung punya, asisten atau sekretaris bisa diminta membantu penyusunan jadwal harian sekaligus mengingatkan. Diingatkan sering lebih baik daripada dibiarkan dengan kegiatan sendiri.

Project Management Success with the Top 7 Best Practices

Whether planning your wedding, developing a new website or building your dream house by the sea you need to employ project management techniques to help you succeed. This article summarises 7 key project management best practices to help you achieve project success.

manajemen proyek management consulting

Project Managers: The Value of Understanding Technology

Many project managers are extremely successful in their role by simply managing a project plan and checking off tasks as they become “100% complete.” They’re able to manage teams, create budgets, assess risk, pretty much perform all of the basic and yet complex project manager duties. And more importantly, they’re able to do these things without having to dig too deep into the technical details. They can lean on the technical lead to solve all of the technical issues.

Source: consultant management Construction Management

Indonesia Infrastructure Report Q2 2008

Indonesia, South East Asia?s largest economy, is home to a vibrant construction industry and is witnessing increased investment flows into its infrastructure sector as the state strives to improve the statutory framework - making domestic infrastructure projects more attractive and bankable for investors.This report forecasts that the construction industry is likely to experience an average annual growth rate of 5.74% over the 2008-2012 forecast period.
There is a mix of small, medium and large companies operating in Indonesia?s construction industry.Some of the largest Indonesian firms are members of the Contractors? Association (AKI). These are the players that are expected to undertake major government projects and compete with international construction companies, both in the domestic and international
markets.
In the current year, the central government has allocated nearly 20% of the overall budget expenditure to public infrastructure development. Moreover, with projects worth more than US$100bn in the pipeline,Indonesia?s domestic construction industry looks set to experience robust growth, in line with economic expansion. In a recent presidential address on the draft 2008 state budget, it was indicated that budgetary allocations to the transport and public works
departments will be increased significantly. It is estimated that in the period 2005-2010, the Indonesian infrastructure sector would require over US$150bn in funding, and a large part of this will have to be raised purely through foreign and domestic private investment.
However, Indonesia is plagued by a few negatives. Primary among these is its business operating environment - considered among the poorest in Asia. Investors often have to contend with security concerns and poor governance characterised by widespread corruption, lack of transparency, poor legal compliance and a highly inefficient tax regime.
Some players from nations such as Japan, South Korea and Taiwan are still wary of financing projects or investing directly in Indonesia. Costly labour is cited as one reason. Another problem that is encountered has to do with the credibility of Indonesian banks. With the lack of funding and limited big-project exposure, it is uncertain whether the nation?s own construction companies will be successful in capturing these lucrative market opportunities.
Banks are still cautious about extending credit to the construction industry. Aside from a shortage of funds, most Indonesian contractors still operate equipment purchased before the 1997 monetary crisis.Such equipment falls short of today?s requirements for speed and high-quality work.
That notwithstanding, BMI analysis indicates that on account of its vast untapped opportunities, the Indonesian construction industry value is expected to reach about US$38.76bn in 2008 and rise to US$44.4bn in 2012. Moreover, in BMI?s Infrastructure Business Environment Ratings for Asia,Indonesia manages a net score of 50. (Business Monitor International, 2008)

Source: manajemen konstruksi manajemen proyek

Construction sector gearing up for economic recovery

Following Indonesia’s slow recovery from the financial crisis, growth in the country’s construction sector has been lagging. Will things stay this way going forward?
Ten years after the financial crisis, construction activity has not fully recovered. The contribution of construction to GDP has been gradually increasing over the past five years, although it has not reached pre-crisis levels yet. Construction as a share of GDP only amounted to 7.5 percent in 2006, still below the pre-crisis level of 8 percent.
This situation has forced the country’s infrastructure sector to re-enter a phase of major growth in the construction of public, as well as private, infrastructure, which will eventually boost and support future demand for construction services.
Going forward, the domestic construction industry looks set to experience robust growth in line with economic expansion.
Development of public and private infrastructure is needed to attract the foreign and private investments that are necessary for supporting GDP growth.
In the 2002-2006 period, the construction industry grew on average by 7.1 percent, while GDP grew concurrently by 5.1 percent. As Indonesian growth is expected to rise towards the six percent level this year (versus 5.5 percent in 2006), construction growth is expected to surge.
As for this year, investment is expected to soar as the macroeconomy stabilizes.
So, what are the factors that help to boost demand for construction services?
Indonesia’s benchmark interest rate may further decline toward 8.5 percent by the end of the year from the current level of 9 percent. Oil prices have risen, but on average are lower than last year (US$60/barrel versus US$66/barrel).
These conditions, along with the absence of major administered price adjustments, should encourage both private and public sector construction projects.
Moreover, the government has been striving to improve the statutory framework so as to make the infrastructure projects offered to investors more attractive and bankable. Under Presidential Decree No. 65 of 2006, the government will encourage accelerated infrastructure development in Indonesia through investment cooperation, revolving funds, subsidies (public service obligation), guarantees and tax waivers.
The various new regulations that have been introduced should serve to attract potential local and foreign infrastructure investment inflows, thus benefiting suppliers of construction and civil engineering services.
According to the government, Indonesia’s infrastructure needs to expand by over US$150 billion between 2005 and 2010. However, only 17 percent of this can be financed from the government’s own resources.
Hence the government is actively encouraging the participation of both local and foreign investors in developing the country’s infrastructure.
As for this year, the central government has allocated nearly 20 percent of this year’s overall budget spending to public infrastructure development, consisting of both multi-year and single-year projects.
Although delays cannot be ruled out, most of the construction work is expected to start in April and be completed by mid-December (single-year projects). The terms of the tenders will favor those companies requiring the least government support, but which possess the highest levels of expertise and experience.
In addition, 19 infrastructure projects costing Rp 63 trillion (US$6.8 billion) will also be put out to tender in 2007, including thirteen toll roads (worth Rp 43 trillion) and three water supply projects (worth Rp 950 billion), as well as a ferry port, an international airport and the national fiber-optic cable network.
But in spite of all the good news and support from the government, progress in terms of actual construction remains fairly limited, especially in the case of public infrastructure projects.
This is shown by the fact that fewer than ten projects offered at the January 2005 Infrastructure Summit have entered the construction phase, while the majority of the remaining projects are still stuck at the tender and prequalification stages.
None of the projects offered in the 2006 Indonesian Infrastructure Summit (Infrastructure Summit II) have been realized. In fact, the tender processes for these projects have not even been completed.
Among the factors that have made these projects less attractive are regulatory restrictions, high commercial-risk levels, difficulties with land acquisition and the surge in inflation that followed on from the slashing of fuel-subsidy spending (which resulted in the prices submitted during the tenders being rendered outdated).
Therefore, the demand for construction services in Indonesia will depend on the investment climate (though not necessarily FDI), as well as the supporting government regulations.
If one is convinced that substantial improvements are forthcoming, then the outlook for the construction services industry, as well as for other sectors directly related to it, such as cement, heavy equipment and property, should also be robust. Therefore, investment in construction-related stocks would currently seem to be a notion worth considering (The Jakarta Post, 2 May 2007)

Source: Construction Management Project Management

Construction Management as a College Major (Part 1 ? Job Market)

There are about 60 Construction Management majors accredited by the American Council for Construction Education around the United States. Some programs are called Construction Science, Construction Technology, Building Construction Management, Building Construction Technology or something similar. Don’t let that fool you. As long as the program is Accredited by the American Council for Construction Education, it must meet a set of strict standards developed both the construction industry and by faculty of these programs.While the oldest program was started in 1935 at the University of Florida, most have proliferated across the nation since the 1970’s. Until the earlier 1990’s, most programs saw slow growth but most all graduates were employed either before graduation or shortly thereafter. During the 1990’s, the construction industry was impacted not only with a tremendous shortage in the craft’s performing the work but in the management end as well. Construction Management majors under go four-years of training in courses such as legal contracts, finance, estimating, scheduling, employee management, basic structural engineering, materials, and methods of construction. Thus preparing students to graduate and be productive for their employer the day they start work. With this background and the shortage in the industry, the demand for these graduates starting ten years ago has been tremendous. With the current U.S. Department of Labor – Bureau of Labor Statistics labor projections there is no end in sight for these graduates. Through the year 2012, the U.S. Department of Labor predicts that Construction is the only goods-producing sector in which employment is projected to grow and their will be an additional 197,000 construction management positions open.A recent article by CNN/Money called “Most Lucrative College Degrees” list the average starting salary for Construction Science gradates at $41,232 per year. This is higher then majors such as Civil Engineering, Business Management, Nursing, and Marketing to name a few.The word is getting out. Construction Management programs across the United States have seen enrollment growth doubling or tripling the size of their programs in the last five years. Some universities have limited growth of these programs, but a few who have not are pushing 700-800 majors.In order to attract these majors, the construction industry has responded with many efforts. Many companies offer students internships during any semester paying an average of $12.00 per hour with some moving expense. Companies come to campuses to recruit at job fairs just for the construction management majors. Many companies have included specific links on their websites for students to apply directly for internships and new graduate positions.Next time in part two, a description of the typical positions and job duties of new Construction Management graduates.

Construction Management Project Management

Use Your Whole Brain: Leveraging Right-Brained Thinking in a Left-Brained World
For organisations, flexing the right side of the brain can dramatically improve decision making, team building and innovation, and ultimately drive greater organisational performance. In fact, whole brain thinking is a secret weapon that successful organisations are using to evolve their business to the next level, and stay ahead of the competition. When you combine left-brained data-driven decision making skills with non-linear right-brained thinking, the result is greater insight and more well-rounded experience that will ultimately help you arrive at better solutions to complex problems.

Source: http://www.projectsmart.co.uk/use-your-whole-brain-leveraging-right-brained-thinking-in-a-left-brained-world.html

manajemen proyek management consulting